HASIL LOMBA HUT RI KE-65 : Juara 1 Lomba Cerpen

MAAF DI BULAN SUCI

Setiap pagi aku selalu membantu ibuku yang bernama Siti Khadijah, ibuku kerja sebagai pembantu dirumah majikan bernama Bapak Ahmad. Aku dan Ibu tinggal di rumah Bapak Ahmad. Capek, keringat ia keluarkan demi aku. Kadang-kadang aku sedih melihat ibuku. Tapi ini sudah menjadi konsekuensi pekerjaan ibuku.

Pada saat aku dan ibu menyiapkan makanan untuk sahur, tanpa sengaja aku menumpahkan secangkir teh hangat di baju anak majikan ibuku yang bernama Aurel. Lalu aurel sontak kaget dan memarahiku. “Eh, anak babu… gimana sih loe. Gak punya mata ya!” bentak Aurel. Sambil memandang ketakutan lalu aku berkata, “Non, maafkan saya. Saya tidak sengaja, gara-gara saya baju non jadi kotor.”

Dengan muka memelas, aku terus berusaha meminta maaf kepada non Aurel, tapi tidak ada respon. Dia terus meminta maaf. Suatu ketika ia mengucapkan maaf tiba-tiba Aurel mendorong dia sampai jatuh ke lantai.

“Maaf… maaf, gak ada kata maaf buat anak babu seperti loe, gara-gara loe baju gw jadi rusak..” sergah Aurel.

Setelah dia dimarahi oleh anak majikannya, dia menuju ke dapur sambil menangis. Tiba-tiba ibuku bertanya, “Kenapa kamu anakku?” Lalu dia menjawab, “Tadi aku tanpa sengaja menumpahkan secangkir teh hangat ke baju tidurnya non Aurel.” Mencoba mendiamkan dan menenangkan isak tangisku, ibuku membantu untuk meminta maaf pada nyonya dan non Aurel.

———

Keluarga Bapak Ahmad tergolong berkecukupan. Hingga wajar jika makan sahur pagi itu begitu mewah sekali. Di meja ada nasi, ayam goreng, sayur lodeh, tempe goreng, buah-buahan, teh manis, es buah, dan tak lupa ada segelas susu. Semua itu yang memasak adalah ibuku. Beliau memang pandai memasak hingga aku merasa iri dan terus belajar untuk memasak tapi saat kumencoba malahan sayurnya keasinan, gorengannya gosong, tumis sayur belum matang.. Wahh.. pokoknya banyak pengalamanku dalam belajar memasak. Tapi aku dan ibu hanya memakan setelah majikanku selesai makan semuanya.

Setelah mereka selesai makan sahur Aurel membahas kejadian tadi sebelum makan sahur. Aurel dengan muka cemberut berharap mendapatkan pembelaan dari kedua orangtuanya. Jujur, ia sudah sangat jengkel sekali karena baju tidurnya lengket dan akhirnya ia harus mengganti bajunya.

“Mami, masa tadi bajuku ditumpahi teh panas oleh anak babu itu..” kata Aurel pada ibunya.

Lalu ibu Vera, istri Pak Ahmad berkata sambil tersenyum, “Lho.. siapa anak babu itu? Anak babu itu punya nama. Mungkin dia tidak sengaja kali menumpahkannya..”

Tiba-tiba datang Vina datang, anak yang sering disebut anak babu. “Nyonya, Non, saya tidak sengaja. Saya sekali lagi minta maaf.” Tapi Aurel tetap saja cemberut dan menyergah ibunya agar tidak memaafkan perbuatan anak babu itu.

“Ya sudahlah tidak apa-apa, Vina juga ga sengaja numpahin teh itu ke baju kamu,” Bu Vera coba mendamaikan keduanya.

Tiba-tiba ibu Khodijah yang semula hanya diam mulai berkata, “Nyonya saya minta maaf ya, kalau anak saya sudah mengotori baju non Aurel. Saya minta maaf.”

“Ahh.. tidak apa-apa, mbok.. Lha wong ga sengaja juga vina numpahinnya,” jawab Bu Vera dengan tenang. Setelah itu keduanya berdamai dengan berjabat tangan. “Maklum anak-anak penginnya berantem terus..” klakar Pak Ahmad.

Setelah selesai Imsak, Vina dan ibunya bersiap-siap untuk sholat shubuh di masjid terdekat. Begitu pula dengan keluarga Pak Ahmad. Ketika Ibu Vera mengajak anaknya untuk bersama-sama ke masjid untuk sholat subuh berjama’ah, Aurel sama sekali tidak mau menuruti ibunya.

“Aurel kita ke mushola yuk, sholat subuh..” ajak Bu Vera.

“Ahh.. malas ah, aku mau tidur. Kan sholat dirumah bisa..” jawab Aurel dengan penuh kemalasan.

“Nak sholat di mushola itu lebih baik daripada sholat dirumah apalagi berjama’ah.” jelas ibunya.

“Kalo gak mau.. ya gak mau! Gak usah dipaksa!” bentak Aurel sambil mendorong ibunya sampai ke depan pintu. Lalu ditutupnya pintu itu dengan keras. Dengan wajah sabar Bu Vera dan suaminya bergegas ke mushola tanpa Aurel.

Aku sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Begitu juga Aurel anak majikanku. Aku satu sekolah dengan dia. Vina, anak Bu Khodijah termasuk anak yang pintar. Namun sayang disekolah ia dikucilkan oleh teman-temannya dan diejek anak babu. Tapi Vina bersabar selalu.

Waktu pulang sekolah telah tiba dan Aurel bergegas untuk pulang. Sesampainya di rumah ia lakukan kebiasaannya di siang hari yaitu tidur siang. Dalam tidurnya ia bermimpi, bahwa dia ditinggal semua keluarganya dan orang tedekatnya selama ini. Ia menangis tersedu-sedu dan berharap semua bisa kembali normal. Sontak ia tersadar, ia coba kembali merenungkan apa yang ia impikan. Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa jika kondisi di mimpi itu benar-benar terjadi.

Loncat ia dari tempat tidur, lekas menuju ke kamar ibunya. Kemudian ia cari Vina, anak pembantunya yang sering ia teriaki anak babu di rumah dan di sekolah itu. Ia cari di kamar dan dapur ternyata tidak ada. Lalu ia melihat Vina sedang menyiram air di kebun. Dipeluknya Vina dengan erat sambil meminta maaf karena selama ini ia selalu menyakitinya.

Akhirnya di bulan suci ini, Aurel benar-benar mau bertobat dan berubah. Ia sudah mau rajin sholat, dan sekarang Aurel dan Vina menjadi sahabat yang dekat, tanpa ada pandang bulu yang membedakan.

(the end)

karya Theresia Tatiana (kelas IX Intensif UN2)

Iklan

HASIL LOMBA HUT RI KE-65 : Juara 1 Lomba Puisi

NEGRI DARAHKU

Ratusan tahun tanah ini menjadi kuasanya

Darah menjadi lapisan yang menutupi tanah

Jeritan siksaan menjadi alunan suara tiap saat

Itulah yang dirasakan tempat tinggalku

Dan tanah airku

Hanya dengan bambu runcing

Melawan semua penyiksaan

Dan keringat semangat yang meledak di jiwa

Besarnya perjuangan para pahlawan

Demi untuk suku bangsa yang menjadi satu

Demi untuk keselamatan tanah cokelat yang subur ini

Hanya untuk negriku Indonesia

Dari titik darah menjadi darah yang melebur

Dari runcingnya bambu menjadi tumpul berbalut darah

Dari perjuangan menjadi satu kesatuan

Sampai akhirnya semua berteriak “MERDEKA”

Tak bisa aku mencintaimu sepenuh hati

Tak seperti pahlawa yang melepaskan nyawa

Aku hanya bisa terharu dan meneteskan air mata

Melihat semua yang telah terjadi, bangga diriku, Indonesia

Merah darahku, negri darahku

Tanah cokelat tempatku berpijak

Langit biru tempatku menatap dunia

Kugenggam tongkat yang terikat kain merah putih

Dan kua ayunkan tanganku

Hingga kain itu berkibar

Dan ku keluarkan kata “MERDEKA”

karya AVANTIE ANANDITA (kelas IX Intensif UN2)