Kunjungan Sehari As-Syifa Boarding School Subang

Bimbelkursus.com – Sobat LCC ada satu yang seru yang dilakuin sama Kak Iyan dari LCC Jatiwaringin. Jaringan yang luas membuktikan kalau LCC Jatiwaringin itu dapat berkiprah di banyak tempat dengan berbagai macam orang. Salah satunya dibuktikan dengan kunjungan sehari dari As-Syifa Boarding School yang berlokasi di Subang, Jawa Barat.

Mobil As-Syifa diparkir di halaman LCC

Mobil As-Syifa diparkir di halaman LCC

Pada kesempatan sebelumnya, Kak Iyan telah menjadi pembicara pada Workshop Guru SMP-SMA As-Syifa Boarding School di Subang, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Dan kunjungan itu dibalas dengan kunjungan sehari dari beberapa orang guru yang tergabung dalam tim penjaminan mutu ke LCC Jatiwaringin.

Meski dunia pendidikannya berbeda tetapi As-Syifa Boarding School mau untuk berkunjung untuk mempelajari hal-hal baru dari keunikan Bimbel LCC Jatiwaringin. Sehingga pada saatnya nanti, dapat diterapkan kepada seluruh siswa dan santri As-Syifa Boarding School Subang.

Kunjungan ini dihadiri oleh 6 orang Guru Penjamin Mutu dan 4 orang Tim Asrama. Diantar dengan transportasi mandiri dari pihak sekolah (mobil sekolah). Sharing dan diskusi pun menjadi agenda dalam kunjungan sehari itu. Berbagi pengalaman menjadi hal utama yang dibicarakan dalam pertemuan singkat tersebut. Kunjungan ini terasa sangat hangat karena Guru dan Tim Asrama diajak berkeliling melihat ruangan dan berbagai administrasi yang digunakan oleh Bimbel LCC Jatiwaringin untuk menjamin kualitas/mutu kepada siswanya.

Foto Bersama

Pendidikan Anak : Pahami Keinginan Mereka…

Sudah banyak orangtua yang mengeluh disebabkan perubahan signifikan dari sikap putera-puterinya. Mereka bahkan tidak mampu menduga apa yang sedang diinginkan oleh anaknya sendiri. Mereka sering mengatakan, “beda lho dengan waktu SD dulu, dia sering cerita. Kok sekarang dah SMP seringnya diam dan reject hp kalo ditelpon.”

Luar biasa perkembangan anak-anak masa kini. Mereka terpengaruh dengan pesatnya kemajuan teknologi hingga orangtua yang tergolong jarang bersinggungan dengan dunia teknologi akan tidak mampu mendekati dan memahami gaya dan sikap putera-puterinya. Bahkan cenderung terjadi perbedaan yang mencolok antara sikap anak di masa kini dan dahulu yang dikenal kedua orangtuanya.

Ambil contoh saja, seorang siswi kelas 7 SMP yang akan naik kelas 8 ini. Semenjak ia dibekali hp black*** karena berhasil mempertahankan juara sekolah dan masuk salah satu SMP unggulan di jakarta, tingkah lakunya semakin tak dipahami oleh kedua orangtuanya, terutama sang ibu yang terbiasa bersamanya. “Waktu SD dia memang selalu saya jemput, karena bareng jemput adiknya. Di jalan atau di rumah dia suka cerita banyak hal dan kejadian di sekolah dan di tempat les. Tapi sejak SMP, dia ga pernah cerita lagi. Malahan kalau ditelpon seringkali direject padahal saya cuma mau tahu, anak saya ini kok belum pulang,” tutur sang bunda mengisahkan.

Kebetulan SMP tersebut berjarak 2km dari rumahnya dan harus menggunakan 2 jenis angkot. Waktu yang dibutuhkan pun sekitar 30-45 menit sudah termasuk perkiraan macet di jalan. Namun, anaknya seringkali pulang lebih dari perkiraan padahal bubar kelas sekitar pukul 13.30 WIB. “Kalau ditanya, kenapa direject telpon ibu. Dia cuma bilang hp lowbat. Padahal pas dia ke kamar mandi dan saya lihat hp nya dalam keadaan cukup baterai. Saya jadi ngelus dada kalau ingat kejadian ini,” jelas sang ibu. “Paling-paling kalau ditanya kenapa pulang telat, cuma jawab main ke mall.”

Orangtua mana yang tidak gusar melihat perubahan anak sedemikian hebatnya. Bahkan lebih dari 180 derajat anak yang dibanggakannya berubah. Tentu banyak pemikiran dan opini terhadap hal ini yang berkembang di orangtua. Namun, opini yang baiklah yang harus tetap dipertahankan. Anak-anak seringkali mendapatkan akibat dari opini pemikiran kurang baik dari orangtua sehingga mereka harus mengalihkan perhatian kepada lingkungannya.

Misalkan orangtua melihat perilaku kurang baik dari anaknya maka pembicaraan antara ayah dan ibu harus menjauhkan dari opini negatif. Mengapa? Sebab dari perilaku kurang baik itu belum terbukti dan masih menduga-duga. Apalagi harus menyalahkan langsung lingkungannya misal teman. Hal ini sering memunculkan ketidakterimaan secara psikis atas tuduhan tersebut dan lebih memilih membela teman atau lingkungannya. Lantas siapa yang harusnya disalahkan atas perubahan perilaku yang terjadi?

Banyak jawaban yang menjelaskan tentang hal ini dari banyak pakar. Salah satunya adalah mengarahkan kesalahan itu kepada orangtua. Sedangkan anak-anak sebagai objek penderita saja. Orangtua bukan berarti memiliki kesalahan 100% atas anak-anak yang berperilaku kurang baik tapi mereka punya andil cukup besar. Contohnya saja pada orangtua yang biasa membimbing belajar 2 orang anaknya -kakak beradik- pada malam hari. Suatu waktu adiknya mendapatkan perhatian lebih besar dari kakak dengan suatu perlakuan dan kata-kata menyinggung sang anak. Bisa jadi tidak disadari oleh orangtua bila kata-kata itu dapat menyinggung anaknya yang sudah besar. Bila itu terjadi pengulangan maka akan sangat besar kemungkinan sang anak melakukan perubahan perilaku sebagai bentuk protes atas perlakuan orangtua kepadanya.

Bila tindakan protes tadi tidak juga dilihat dan disadari oleh orangtua, maka itu akan masuk kepada kesenangan baru bagi si anak. Proses akhirnya adalah perubahan perilaku yang tidak disangka oleh orangtua. Bahkan mungkin perubahan sikap keseharian. Jika perubahan ini disikapi kurang tepat oleh orangtua maka akan memunculkan protes-protes lainnya di kubu anak. Lingkungan yang selalu bersamanya jika baik maka akan menetralisir hal itu dan jika kurang baik maka akan memperparah tindakan protes itu.

Inilah yang mesti diperhatikan oleh para orangtua yang sedang menghadapi perubahan perilaku pada putera-puterinya yang beranjak remaja. Pertama, anak-anak fitrahnya ingin dimengerti keinginannya sekecil apapun. Memang sulit sekali bagi orangtua untuk kompromi dalam hal ini terhadap anak-anaknya. Realitas terkadang menghambat proses realisasi dari keinginan mereka. Akan tetapi, jalan persuasif dan mendidik mampu menjadi jalan keluar alternatif bagi pemenuhan keinginan mereka. Tidak jarang orangtua yang mengajak anak-anaknya berpikir sedikit keras dan dewasa apabila ada keinginan yang belum mampu direalisasikan orangtua. Betul, ada mengerti dan ada yang tidak.

Itulah tantangannya sebagai orangtua, anak-anak laiknya orangtua di masa kecil. Ingat kembali memori masa kecil saat terjadi hal seperti ini. Apabila sulit mengingat atau belum pernah mengalaminya, maka bicarakan itu dalam suasana yang tenang dan jernih agar topik tidak melenceng ke arah yang negatif. Perlu diingat bagi orangtua adalah POSITIF THINKING pada anak-anak Anda. Bila tidak juga menemukan solusi maka bertukar pikiranlah dengan orang-orang yang Anda anggap lebih memahami solusi dari permasalahan ini.

Kedua, orangtua harus proaktif dalam mendekati putera-puterinya. Anak yang sedang dihadapi perilakunya itu adalah anak kita yang dititipkan Tuhan untuk dididik dan dipelihara dengan baik. Tumbuh kembangnya mereka menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengawasi. Tidak sedikit orangtua yang menyerahkan perkembangan anak kepada sekolah dan guru les saja. Orangtua seperti ini berpikir bahwa kewajiban orangtua memenuhi segala hak-hak anak dalam hal materiil. Mereka mungkin lupa, hak inmateriil anak juga wajib dipenuhi yaitu diberikan kebahagiaan dalam keluarga, diperhatikan dalam pertumbuhannya, didengarkan curahan hati mereka, didukung bakat dan minat mereka, dan lain sebagainya.

Kini banyak orangtua yang tak malu lagi dalam mendekati putera-puteri mereka yang terlanjur terlepas di tengah pertumbuhannya karena sibuk bekerja dan aktivitas lain. Tak jarang mereka mau ‘turun gunung’ mengajarkan anak dalam belajar harian mereka. Atau sekedar mengajak mereka bermain di rumah atau mengajaknya ke pusat permainan edukasi anak. Mereka mulai memasuki dunia anak dengan segala lika-likunya. Mereka mulai menggemari apa yang disukai oleh anak-anaknya meskipun harus menyingkirkan ego sebagai orangtua yang lebih dewasa.

Sikap proaktif inilah yang nantinya akan membawa dampak positif pada anak meskipun perilaku mereka berubah 180 derajat. Pada akhirnya perubahan itu dapat orangtua pahami dan menemukan solusi tepat untuk merubahnya kembali sesuai kebaikan. Selain itu, proaktif juga mampu membuka kunci kebekuan anak untuk berdiskusi atas segala permasalahan yang dialaminya. Lingkungan seburuk apapun yang pernah ditemui anak Anda maka dia akan mampu mem-filter-nya dengan baik.

Ketiga, libatkan mereka dalam menentukan keputusan di keluarga. Ya, keputusan apapun meski hanya meminta pendapat anak tentang letak yang cocok untuk sebuah vas bunga. Anak-anak adalah anggota keluarga inti yang penting diperhatikan pendapatnya. Hal seperti ini akan membangun rasa tanggung jawab pada jiwa mereka serta mengasah kepemimpinannya juga. Sehingga pada hal-hal yang bersifat mudah diatasi, mereka akan dengan sigap menyelesaikan permasalahan mereka sendiri tanpa harus bergantung pada Anda. Ketergantungan anak mungkin akan muncul pada masalah yang besar, yang sulit mereka pecahkan sendirian tanpa bantuan Anda.

Nah, sahabat anak, itulah 3 langkah kecil dalam melakukan pendidikan anak. Mereka adalah perhiasan dunia yang selalu menghiasi kehidupan Anda, kini dan nanti. Mereka pula yang akan menjadi penyenang hati Anda ketika Anda dalam kondisi sedih dan butuh dukungan penuh dari keluarga. Sungguh, investasi tak ternilai bila orangtua Indonesia menerapkan tiga langkah kecil ini di rumah masing-masing. Begitu pula, tak akan ada kerugian yang ditanggung bila tiga langkah kecil ini diterapkan oleh orangtua Indonesia, dimanapun berada.

Salam hangat dari Kak Iyan.

“Sahabat anak dan orangtua Indonesia”