Suasana Kompetisi di Ruang 3, Kompetisi Matematika I

Nasib Guru dan Siswa 2015 : Kurtilas (Kurikulum 2013) Dalam Berita

Bimbelkursus.com – Berikut ini kami nukilkan berita-berita mengenai Kurtilas alias Kurikulum 2013 yang menjadi bahasan selama beberapa pekan terakhir. Bahkan hingga hari ini, bahasan ini masih menjadi berita hangat dalam pertemuan guru, orangtua, dan siswa. Ada dilema saat dilanjutkan dan dihentikan. Ada kebaikan di Kurtilas, ada juga yang perlu diperbaiki di Kurtilas. Tak ada yang sempurna karena Kurikulum 2013 buatan manusia.

——— berita pertama ————

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan membantah bakal membatalkan Kurikulum 2013. Dia menyatakan, Kurikulum 2013 tak akan dihapus begitu saja.
Menurut Anies, Kurikulum 2013 hanya akan ditinjau kembali. Ini lantaran masih dibutuhkannya banyak persiapan sebelum kurikulum itu dapat diterapkan secara maksimal.
“Selama setahun berjalan, Kurikulum 2013 menimbulkan banyak masalah di 208 ribu sekolah. Bisa dibayangkan pendidikan serta gurunya belum siap. Jadi bukan membatalkan kurikulum tapi meninjau kembali,” ujar Anies di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (14/12/2014).
Menurut mantan Rektor Universitas Paramadina itu, implementasi Kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara bertahap.
“Kita nanti akan melakukan implementasi secara bertahap. Dalam waktu 3-4 tahun ini bisa dipastikan selesai. Misalnya dari 3 persen jadi 5 persen, lalu 45 persen, kemudian meningkat jadi 70 persen, dan selesai dalam rentang 1 tahun,” papar Anies.
Di lain sisi, sambung dia, dengan penghentian sementara itu, anggaran juga tidak bakal mengalami pemborosan.
“Anggarannya nggak ada masalah. Anggaran untuk pelatihan guru masih jalan terus, buku digunakan sebagai referensi di perpustakaan sampai kurikulum (2013)-nya siap, jadi tidak ada pemborosan sama sekali,” tandas Anies. (Ndy/Mut)

(Sumber : http://m.liputan6.com/news/read/2147181/menteri-anies-tegaskan-kurikulum-2013-tak-disetop-tapi-ditinjau)

——— berita kedua ————

JAKARTA, KOMPAS.com — Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Haryono Umar mengatakan, pihaknya telah menerjunkan dua tim untuk melakukan investigasi terhadap temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait dugaan penggelembungan harga modul pelatihan guru pengawas Kurikulum 2013.

“Surat tugas untuk kedua tim sudah ada sejak kemarin. Kami akan melakukan investigasi secara menyeluruh,” kata Haryono Umar dihubungi di Jakarta, Jumat (19/12/2014).

Haryono mengatakan, laporan ICW mengenai penggelembungan harga pengadaan modul di Malang merupakan informasi yang berharga. Informasi tersebut akan menjadi sampel dalam melakukan investigasi menyeluruh dengan menggunakan metode uji petik.

Menurut Haryono, tim pertama akan melakukan investigasi terhadap pelatihan guru pengawas, sedangkan tim yang lain akan melakukan investigasi terkait pengadaan modul pelatihan yang oleh ICW diduga ada penggelembungan harga.

“Selain dari ICW, kami juga mengumpulkan data-data terkait pelatihan dan pengadaan modulnya. Data-data itu akan diuji untuk membuktikan apakah ada penyimpangan atau tidak,” ucapnya.

Terkait kemungkinan sanksi terhadap pegawai yang terbukti melakukan penyimpangan, Haryono mengatakan, Kemendikbud sudah memiliki prosedur tetap dalam setiap program pelatihan dan pengadaan.

Apabila dalam investigasi ditemukan adanya selisih harga dengan biaya produksi, maka akan ditelusuri terlebih dahulu apakah hal itu disebabkan oleh kelalaian atau kesengajaan.

“Sanksi yang dijatuhkan sudah pasti sesuai dengan bukti dan fakta perbuatan yang dilakukan,” ujar mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini.

Sebelumnya, ICW melaporkan temuan adanya dugaan indikasi penggelembungan anggaran dalam pengadaan modul pelatihan guru pengawas Kurikulum 2013 yang dilakukan dilakukan unit kerja Kemendikbud di Malang.

“Yang ditemukan di Malang nilainya Rp 983 juta dengan potensi kerugian negara Rp 786 juta. Karena tidak ada Rp 1 miliar, maka kami laporkan ke Kemendikbud untuk ditindaklanjuti, bukan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” tutur Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri.

Febri mengatakan, modus korupsi yang ICW temukan adalah penggelembungan harga. Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Bidang Otomotif di Malang melayani pengadaan 22.221 modul untuk pelatihan guru pengawas bagi sekolah di Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Gorontalo.

Dari dokumen-dokumen dan investigasi yang dilakukan ICW, ditemukan penggelembungan harga hingga Rp 30.000 ke atas. Biaya produksi satu unit modul yang rata-rata hanya Rp 10.500 digelembungkan menjadi Rp 40.000, bahkan Rp 60.000.

“Saat itu, pihak Kemendikbud menyatakan akan menindaklanjuti laporan kami dengan memeriksa langsung ke lapangan,” jelasnya. (Baca: ICW Laporkan Dugaan Korupsi Modul Kurikulum 2013 ke Kemendikbud)

Sumber : (http://nasional.kompas.com/read/2014/12/19/19265761/Kemendikbud.Terjunkan.Dua.Tim.untuk.Investigasi.Dugaan.Korupsi.Modul.Kurikulum.2013)


———- Berita Ketiga ———–
JAKARTA, KOMPAS — Sekalipun kini Kurikulum 2013 diterapkan terbatas di sekolah-sekolah tertentu, buku-buku berbasis Kurikulum 2013 semester I dan II tetap akan digunakan sebagai buku referensi di perpustakaan sekolah. Begitu pula dengan lembar rapor yang kelak dipakai ketika sekolah siap melaksanakan kurikulum baru itu.

Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad dalam Diskusi Pendidikan Harian Kompas bertajuk ”Mendudukkan Persoalan dan Mencari Solusi Kurikulum 2013” di Kantor Harian Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta, Jumat (12/12).

Pekan lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memutuskan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 secara menyeluruh di semua sekolah. Kurikulum 2013 hanya diterapkan di 6.221 sekolah yang telah melaksanakan kurikulum baru itu selama tiga semester. Adapun sekolah lain harus kembali ke Kurikulum 2006. Keputusan mulai berlaku semester genap tahun ajaran 2014/2015 atau Januari 2015.

”Buku-buku itu tetap akan digunakan sebagai buku referensi di perpustakaan sekolah. Selain itu, rapor juga akan dijadikan stok dan dimanfaatkan saat sekolah-sekolah siap melaksanakan Kurikulum 2013,” ucapnya.

Dari 6.221 sekolah yang sudah menerapkannya sejak Juli 2013 (2.598 SD, 1.437 SMP, 1.165 SMA, dan 1.021 SMK), baru 67 persen SD dan 83 persen SMP yang telah menerima buku pada semester I. Kapasitas pencetakan buku yang terbatas mengakibatkan penyediaan buku tersendat.

Terkait persoalan pengadaan buku Kurikulum 2013, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengirimkan surat edaran kepada para gubernur. Surat edaran itu berisi imbauan agar pemerintah daerah segera membayar tunggakan buku-buku Kurikulum 2013 semester I yang sudah diterima sekolah. Selain itu, buku-buku Kurikulum 2013 semester II yang telah dikontrak juga harus segera dikirimkan ke sekolah-sekolah.

Menunggu revisi

Ke depan, menurut Hamid, penerapan Kurikulum 2013 masih akan menunggu revisi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

”Setelah Pusat Kurikulum dan Perbukuan selesai merevisi, baru akan dibuat tahapan pelaksanaan Kurikulum 2013, termasuk menyeleksi sekolah-sekolah yang dianggap siap,” kata Hamid.

Praktisi pendidikan yang juga anggota tim revisi Kurikulum 2013, Weilin Han, mengungkapkan, di antara pemberlakuan kurikulum yang berubah-ubah, murid menjadi korban. Menurut dia, Kurikulum 2013 perlu direvisi dan hendaknya jangan terburu-buru diterapkan jika memang belum tersusun baik.

”Pelatihan harus benar-benar dipersiapkan, jangan massal dan hanya 52 jam. Siapa yang mendampingi juga perlu dipersiapkan,” katanya.

Selama proses revisi kurikulum berjalan, pelatih guru nasional Itje Chodidjah mengusulkan agar pemerintah juga melihat Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi yang strukturnya dinilai relatif lebih utuh. Sudah terlihat indikator-indikator dan silabus nasionalnya.

”Keputusan yang diambil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini pasti berat. Mau lanjut dengan Kurikulum 2013 tentu berat, tetapi kembali ke Kurikulum 2006 juga tak mudah karena kurikulum itu juga banyak kelemahannya,” kata Itje. (ABK/LUK/DNE)

———– Berita Keempat ———–
Liputan6.com, Surabaya – Penggagas Kurikulum 2013 dan mantan Mendikbud Mohammad Nuh menegaskan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 itu tidak sesuai UU 20/2003 tentang Sisdiknas. Karena itu pihaknya merumuskan Kurikulum 2013.
“Itu pun, KTSP 2006 tidak langsung kami ganti. Karena kami ingin menjaga kesinambungan, lalu kami lakukan evaluasi hingga 2012 sebagai bahan untuk membenahi kurikulum yang baru nanti,” kata Nuh di Surabaya, Kamis (11/12/2014).
Guru Besar ITS Surabaya yang juga Ketua Umum Yayasan RSI Surabaya (Yarsis) itu menjelaskan, UU Sisdiknas mengamanatkan tiga kompetensi pendidikan. Yakni pengetahuan, ketrampilan, dan sikap.
“Tiga kompetensi itu tidak ada dalam KTSP, karena itu merancang kurikulum baru, bahkan Kurikulum 2013 itu juga disesuaikan dengan amanat dalam UU Sisdiknas tentang konsep kesatuan atau integrasi dalam pendidikan,” kata dia.
Bahkan, konsep integratif itu mulai ditiru Malaysia. “Presiden Obama pun pada tahun 2014 mulai memasukkan konten nonfiksi dari mata pelajaran IPA, IPS, dan PKN ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi, kita sudah sejak 2013, tapi Amerika baru memulai tahun 2014,” jelas Nuh.
Karena itu, imbuh dia, tiga kompetensi dan sistem tematik integratif yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 itu sudah sesuai UU Sisdiknas.
“Kompetensi sikap itu jangan diartikan agama-isasi, tapi pembentukan karakter. Itu cita-cita UU Sisdiknas,” ujar Nuh.
Dalam kesempatan itu, Nuh menyebut evaluasi yang sudah dilakukan terhadap KTSP 2006. “Jadi, tidak benar kalau kita merancang Kurikulum 2013 tanpa melakukan evaluasi terhadap KTSP 2006, tapi sengaja kita rahasiakan untuk etika,” ungkap Nuh.
Menurut dia, hasil evaluasi mendasar KTSP 2006 adalah ketidaksesuaian dengan UU Sisdiknas. Lalu evaluasi teknis terkait kesalahan materi, kesalahan ketrampilan, kesalahan metode dan sistem pembelajaran, dan kesalahan sistem penilaian.
“Kesalahan materi terkait kemampuan nalar dan analisa data yang lemah pada pelajar Indonesia sesuai hasil survei PISA dan TIMSS, karena itu kita benahi sistem hafalan menjadi sistem kreatif melalui tematik integratif,” katanya.
Selain itu, materi sejarah untuk SMK tidak ada dalam KTSP 2006. Materi budi pekerti dan karakter juga tidak ada, materi Bahasa Indonesia hanya dua jam pelajaran tapi Bahasa Inggris ada empat jam pelajaran, dan sebagainya.
Sementara itu, kesalahan dalam ketrampilan adalah menyederhanakan ketrampilan dengan prakarya, padahal ketrampilan itu juga menyangkut ketrampilan berpikir.
“Itu terjadi, karena Kurikulum 2013 tidak berpusat pada buku atau guru, Kurikulum 2013 juga bukan hafalan tapi mendorong berpikir kreatif, dan Kurikulum 2013 juga mengalihkan kurikulum yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa,” beber dia.
Ia menyarankan kepada Mendikbud untuk melakukan langkah bijak yakni melakukan evaluasi sesuai roadmap meningkatkan penguatan guru, dan hindari langkah mubadzir untuk lembaga pendidikan yang sudah siap dan buku yang sudah tercetak.
Dalam kesempatan itu, Nuh juga menyinggung kesiapan guru. “Guru itu lebih siap dengan Kurikulum 2013 daripada KTSP 2006, karena hasil UKG (uji kompetensi guru) untuk KTSP 2006 itu 43,82 persen (dalam penguasaan materi), sedangkan hasil UKG untuk Kurikulum 2013 mencapai 70,33.
“Jadi, secara akademik, kesiapan guru untuk kembali pada KTSP 2006 itu patut dipertanyakan, karena nilai UKG-nya hanya 43,82 persen. Apa perlu latihan lagi, padahal nilai UKG untuk Kurikulum 2013 sudah mencapai 70,33 persen, bahkan sensus pada siswa untuk implementasi Kurikulum 2013 itu juga positif,” terang Nuh. (Ant/Ali)

One comment on “Nasib Guru dan Siswa 2015 : Kurtilas (Kurikulum 2013) Dalam Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s