LCC Jatiwaringin : Semangat Berkurban Untuk Kejayaan Bangsa

Bulan Oktober tahun ini memiliki perbedaan dari tahun lalu. Di bulan ini terdapat 2 hari yang berdekatan dan saling mengaitkan makna. Bila setiap orang yang peka, pasti akan mampu meraih makna terkandung. Ya, 2 hari itu akan segera tiba. Tanggal 26 dan 28 Oktober bukanlah tanggal keramat yang memiliki daya magis. Tetapi, 2 hari peringatan itu sama-sama memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia.

Pada 26 Oktober 2012 ini diperingati sebagai Hari Raya ‘Idul Adha 1433 Hijriah, atau biasa masyarakat menyebutnya hari raya qurban. Pada hari ini dilaksanakan dua sholat hari raya bagi umat Islam. Sedikit mengingat kisah yang terkandung dalam peringatan ‘Idul Adha. Kisah ini bermula pada sikap patuh dan taatnya Nabi Ibrahim a.s. untuk melaksanakan perintah Tuhan yaitu menyembelih anaknya, Ismail. Meski ada rasa kasihan yang teramat dalam karena Ismail adalah anak yang ditunggu-tunggunya setelah 40 tahun lamanya. Kini saat telah tumbuh remaja, ia harus dikurbankan untuk memenuhi perintah Tuhan yang menguasai Alam Semesta dan Memberinya keturunan.

Saat kabar perintah itu disampaikan pada anaknya, tak ada rasa gentar sedikitpun yang dialami oleh Ismail. Bahkan Ismail menguatkan ayahnya untuk melaksanakan perintah itu dengan baik karena ia yakin pasti ada maksud yang terkandung dalam perintah itu bagi umat setelah mereka. Yakinlah Nabi Ibrahim a.s untuk melaksanakan perintah itu. Tatkala semua persiapan telah selesai dan akan segera menyembelih meskipun tangannya bergetar. Tuhan pun memberikan jalan keluar bagi kegundahan Ibrahim a.s. dengan mengirimkan seekor domba untuk disembelih. Keteguhan dan pengorbanan Ibrahim a.s telah lulus uji bahkan tidak ada Nabi selainnya yang mendapatkan gelar terhormat, Bapak Para Nabi. Itu dikarenakan ujian yang diberikan Tuhannya telah dilaksanakan dengan baik semasa hidupnya.

Dengan modal itulah akhirnya Ismail pun menjadi seorang Nabi selepas ayahnya wafat. Kepatuhan, keteguhan, keyakinan, dan sikap rela berkorban yang ditunjukkan olehnya menjadikan Nabi Ismail a.s. seorang pemuda yang diperhitungkan di negeri Babylonia saat itu. Ia pun mendapatkan ujian yang begitu hebatnya dari Tuhan dan ia berhasil melaluinya. Hingga ia menjadi seorang yang jujur lagi pandai untuk mengurus logistik semasa paceklik melanda.

Sedangkan pada 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Mengenang masa di tahun 1928, itu berarti 84 tahun yang lalu, ketika para pemuda Indonesia tertatih-tatih membela tanah air Indonesia dikarenakan tidak adanya kesatuan perjuangan yang dilakukan di daerah-daerah. Berbekal semangat dan keinginan mengenyahkan penjajahan dari bumi pertiwi, berkumpullah para pemuda di Jakarta. Saat ini, rumah pertemuan itu dijadikan Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Dari berbagai suku dan daerah mereka berkumpul untuk menghempaskan perbedaan diantara mereka.

Akhirnya, tanggal 28 Oktober 1928 mereka bersumpah dan berikrar bahwa Bertanah air satu Tanah Air Indonesia, Berbahasa satu Bahasa Indonesia, dan Berbangsa satu Bangsa Indonesia. Satu bentuk perlawanan luar biasa yang dilakukan oleh para pemuda saat itu dari sekedar gerilya menuju perlawanan intelektual. Para pemuda ini mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk berjuang bersama-sama dengan tidak mengenal perbedaan suku dan ras karena semuanya sama, Rakyat Indonesia. Semangat itulah yang terus bergelora hingga hari ini.

Dua kisah berbeda tahun dan zaman, memberikan pelajaran yang luar biasa tentang menatap kehidupan masa datang. 67 tahun Indonesia telah merdeka namun belum mampu menyejahterakan rakyatnya. Bahkan seperti terjadi kolonialisme baru yang dibungkus dengan cover yang bagus untuk mengelabui rakyat. Semangat untuk mengisi kemerdekaan di jiwa pemuda hari ini pun jauh dari kata baik. Bahkan angka pengangguran yang ada di Indonesia, sebagian besar adalah usia muda. Lantaran akses pendidikan yang sulit dan pemerataan lapangan kerja yang tidak seimbang menjadikan semangat juang dan berkorban dari para pemuda pun surut.

Hari ini para pemuda lebih disibukkan dengan internet di warung-warung internet daripada sibuk dengan buku dan mempelajari soft skill lain untuk memenuhi kompetensi dirinya. Mereka lebih bangga mengalahkan kawannya di arena balap liar dan arena playstation daripada mengalahkan nilai akademis dan prestasi kawannya. Lemahnya kemauan, minimnya sarana, dan rendah penghasilan keluarga akhirnya menyebabkan para pemuda lebih memilih untuk bekerja asalkan punya penghasilan. Daripada mereka meningkatkan kompetensi untuk meningkatkan salary penghasilannya dan memperluas bidang kerjanya.

Tahun ini, bulan ini, semoga memberikan pelajaran terbaik bagi para pemuda Indonesia untuk mampu menginternalisasikan semangat berkurban pada dirinya. Tidak akan mampu bangsa ini bangkit bila para pemuda masih tergeletak di area kemalasan. Tak akan jaya dan besar bangsa ini jika para pemuda belum tergerak untuk mengisi kemerdekaan dengan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, dan bangsanya. Meski kontribusi yang diberikan kecil, tapi ingatlah takkan ada batu bata bila tak ada partikel tanah liat yang kecil. Tak ada bangunan tinggi yang kokoh bila tak ada batu bata yang menyusunnya.

Aplikasi Semangat Berkurban Bagi Bangsa

Berkurban tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi tapi juga bagi orang lain. Semangat kurban dapat kita sandingkan dengan semangat berkorbannya para pejuang kemerdekaan yang dengan rela mengorbankan jiwa raganya untuk kepentingan bangsa ini. Semangat berkurban ini dapat kita aplikasikan dalam keseharian kita, diantaranya :

Pertama, semangat untuk mengeluarkan dana kurban untuk kebaikan masyarakat sekitar. Daging kurban sekarang ini sudah banyak yang diolah menjadi kornet atau sosis sehingga tahan lama dan dapat disalurkan kepada yang berhak nun jauh disana. Kebaikan yang tiada tara bila kita belajar berkurban di tahun ini dan tidak ada yang rugi. Kita berbagi kepada sesama yang masih belum mampu merasakan kenikmatan daging.

Kedua, semangat berkurban ini kita aplikasikan saat belajar. Kita korbankan waktu kita bermain untuk belajar demi mengejar cita-cita tertinggi. Tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kerja keras. Tidak ada kekayaan yang datang tanpa diusahakan. Belajar pun tidak mengenal usia. Usia 60 tahun bisa dikatakan jiwa pemuda bila ia masih terus belajar tentang ilmu dalam kehidupan ini. Sedangkan umur 15 tahun bisa dikatakan jiwa tua bila ia malas-malasan untuk belajar.

Ketiga, semangat ini kita aplikasikan dalam keseharian. Korbankanlah sedikit waktu untuk bermasyarakat dan menambah keterampilan agar di masa dewasa tidak berkecil hati karena minim kompetensi keterampilan kerja. Mulailah dari mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan hingga mencoba keterampilan lain yang lebih khusus, misal keterampilan komputer, menjahit, merias, dan sebagainya. Bergaul tidak ada yang melarang tapi jika bergaul tanpa mengakibatkan manfaat bahkan efek negatif maka pergaulan itu hanya membuat pelakunya membuang waktu sia-sia.

Keempat, semangat ini dapat ditularkan kepada oranglain dengan berbagi. Tulus berbagi kepada sesama. Tulus membantu pada sesama. Hal itu akan membangun semangat masyarakat untuk terus berusaha dalam kemandirian. Orang yang miskin juga miskin keterampilan dan pengetahuan, maka berkorbanlah untuk memenuhi kebutuhan itu di masyarakat. Bantu mereka dengan ikhlas dan tulus sehingga suatu masyarakat akan bangkit dalam kemandirian. Bila kelompok-kelompok masyarakat telah berkembang dalam kemandiriannya maka sedikit demi sedikit akan meningkat penghasilannya. Dengan itu, bangsa ini akan semakin kuat, maju, dan jaya.

#Christian Atanila, S.Si#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s