Bagian 1 : Perubahan Tepat Di Tengah Ketidakpastian

“Banyak orang yang jujur, setia, dan pintar ternyata tak menjadi apa-apa. Bahkan mereka frustasi dan berpandangan negatif terhadap segala hal. Kenapa? Karena mereka sejak awal berlindung di bawah selimut kenyamanan (comfort zone). Padahal untuk berubah dibutuhkan keberanian untuk keluar dari selimut itu dan bergelut dengan ketidaknyamanan. Buku ini mengantarkan kita untuk melakukan perubahan dengan lebih bergairah.” (Prof. Rhenald Kasali, Ph.D)

Satu-satunya yang konstan di dunia ini adalah PERUBAHAN, berubahlah sebelum perubahan memaksamu untuk berubah. Ya, kalimat inilah yang muncul dalam benak saya ketika membaca buku karya James Gwee ini. Kemasan bahasa yang ringan dan tepat sasaran, sesuai dengan kondisi kekinian yang dihadapi banyak orang.

Perubahan terkadang menjadi momok bagi sebagian orang. Setiap pergantian pimpinan atau manajemen, akan ada saja orang-orang yang tidak setuju dengan peraturan baru yang diterapkan karena mereka sudah berpandangan negatif terhadap peraturan itu. Mereka berpikir keras bagaimana peraturan itu tidak dapat dilaksanakan. Sudah tentu mereka adalah orang-orang lama yang rentan pada perubahan dan tidak lagi produktif, meski usia produktif mereka masih panjang.

Karyawan yang memiliki kinerja pas-pasan, tidak punya kreativitas yang tinggi pasti, tidak punya semangat berkompetisi yang baik, dan tidak mau diajak berubah maka mereka itulah orang yang menentang pertama kali adanya perubahan. Sebaliknya, karyawan yang memiliki antusiasme tinggi, kreativitas terasah dengan baik, dan mau untuk berubah ke arah yang lebih baik, maka mereka itulah orang-orang yang merasakan angin segar saat mendengar pertama kali perubahan dikumandangkan. Positif thinking selalu menjadi penghias cakrawala berpikir mereka yang selalu rindu akan perubahan.

Maju Atau Nyaman : Pilih Mana?

Pilihan yang sulit bukan? Ya, sulit bagi mereka yang sudah memilih untuk maju tetapi masih berpikir tetap maju dan ingin pula dalam kondisi nyaman. Sulit juga bagi mereka yang memilih tetap nyaman dan tidak memilih untuk maju.

Bagi yang ingin maju maka kondisi tidak nyaman hanyalah sementara waktu dan di masa depan akan terbangun kondisi yang paling nyaman disebabkan pengorbanan kita di awal atas toleransi terhadap ketidaknyamanan. Sedangkan bagi yang memilih tidak maju maka ia akan nyaman selamanya dan tidak akan pernah maju. Itulah penjelasan atas mereka yang rajin, setia, jujur tapi tidak maju-maju dibandingkan mereka yang biasa-biasa saja tapi mampu mengalami perubahan yang signifikan. Tidak lain tidak bukan, itu disebabkan oleh rutinitas yang melingkupi pekerjaannya membuat diri mereka nyaman dan tidak ingin suatu perubahan.

Terkadang orang atau organisasi lebih memilih dalam kondisi nyaman ketimbang mengambil satu langkah perubahan yang fantastis untuk meningkatkan income. Bahkan ada diantara mereka yang mengambil action A dengan harapan mendapatkan result B. Mereka lupa jika action A yang dilakukan maka result A pula yang mereka dapatkan. Berbeda jika mereka bergerak dari action A ke action B, maka dapat dipastikan result-nya pun akan berpindah dari A ke B. Begitu seterusnya, bila action B lebih baik dari action A, maka action C lebih baik dari action B.

Dari Tangan Kanan Ke Tangan Kiri

Simple. Itu kalimat yang terucap saat mencoba menggoreskan tinta untuk tanda tangan dengan tangan kanan. Tiba-tiba jika diubah menjadi tangan kiri maka semua kenyamanan itu akan buyar begitu saja bersama dengan ketidaknyaman. Perasaan sulit, berat, tidak biasa, dan sebagainya akan merasuki pikiran dan akhirnya melemahkan.

Dari hal yang sederhana di atas, dapat terungkap bahwa hambatan paling besar yang dihadapi sebagian besar orang yang mau maju adalah hambatan mental. Sesungguhnya semua orang tidak memiliki hambatan fisik bila diminta tanda tangan dengan tangan kirinya. Tetapi mental mereka yang menolak melaksanakan perintah itulah yang membuat fisik tak mampu melakukan tugasnya dengan baik.

Tiga tipe manusia yang berkenaan dengan jenis hambatan ini adalah pertama, orang yang enggan melakukan perubahan. Mereka adalah orang-orang yang menyerah sebelum memulai melaksanakan perubahan. Hambatan mental menjadi perkara utama dalam kepribadian mereka. Hingga mereka tak mau mencoba dan berusaha.

Kedua, adalah mereka yang ikut serta dalam perubahan. Namun, ketika mengalami kendala maka mereka lebih cenderung kembali kepada kebiasaan lama. Hambatan fisik yang menghambat proses perubahan akan menjadikan mereka mengalami hambatan mental, yang pada pertama kali turut serta dalam perubahan hambatan mental itu dapat diatasi.

Tipe ketiga, adalah orang yang menyadari betapa pentingnya berubah untuk kemajuan. Mereka siap dan mampu mengatasi hambatan fisik dan mental. Ketika mereka alami keduanya, maka tidak patah arang dan kembali bergelut dan berusaha mencoba sampai mereka dapatkan keberhasilan. Sehingga lambat laun apa yang dirasa kaku jadi lentur, yang sulit jadi mudah, yang dulunya bimbang jadi yakin, yang jelek jadi bagus.

Kenapa Orang Enggan BERUBAH ?

Mungkin kita pernah bertanya-tanya, kenapa staf kita enggan melakukan perubahan? Karena mereka merasa nyaman. Sebagai manajer, kita perlu tahu, memahami, dan mengakui perasaan mereka sehingga kita mampu memimpin, mengatur, dan memotivasi staf untuk mau melakukan perubahan demi kebaikan mereka dan organisasi secara keseluruhan.

Secara umum, James Gwee membaginya kedalam 4 (empat) alasan. Pertama, yang lama sudah terbukti bagus. Alasan ini disampaikan karena apa yang telah dilakukan pada masa lampau sudah terbukti bagus, lancar, dan menguntungkan. Mereka menganggap bahwa meninggalkan hal yang sudah terbukti bagus tidak masuk akal, apalagi harus menggunakan cara baru yang belum pasti dan belum terbukti bagus.

Alasan kedua adalah rasa takut. Takut akan resiko dan konsekuensinya yang akan dihadapi nanti bila mengikuti perubahan. Ketiga, mereka dilingkupi rasa curiga. Curiga hinggap manakala terjadi perubahan, apalagi jika atasan tidak akrab dengan staf. Mereka merasa ada udang di balik batu. Mereka mengingatkan rekan-rekan lainnya untuk waspada karena atas ini licik. Akibatnya perubahan tidak terjadi.

Alasan terakhir adalah asosiasi positif dan negatif. Mungkin ini alas an yang paling menarik kenapa orang enggan berubah. Kita semua tahu ini adalah insting dasar binatang untuk tetap hidup. Dan sampai tahap tertentu, insting binatang itu masih deprogram dalam diri kita masing-masing untuk mencari keamanan dan menghindari bahaya. Kecenderungannya adalah mengasosiasikan action A (yang lama) sebagai tindakan yang aman karena sudah terbukti, tidak terlalu beresiko, nyaman, dan sebagainya.

Di sisi lain, action B cenderung kita anggap sebagai hal yang belum terbukti, beresiko, tidak nyaman, dan berbahaya. Karena itu, sadar atau tidak, insting dasar untuk tetap hidup itu membuat kita tetap berada dalam ‘zona aman dan nyaman’ dan menghindari ‘zona bahaya’. Oleh sebab itu, perlu ditransfer ke dalam bahasa yang sederhana agar para staf mampu menyerna pemahaman ini dengan baik.

Reward Vs Upaya + Resiko

Seseorang yang memegang sebuah teko yang ternyata panas, pasti akan langsung melepaskannya agar tangan kita tidak melepuh. Insting dasar kita sudah terprogram untuk menghindar dari bahaya. Jadi, berubah itu sangat bertentangan dengan sifat dasar manusia.

Nah, untuk memancing orang agar mau keluar dari comfort zone (CZ) menuju danger zone (DZ), kita harus menunjukkan REWARD. Ciptakan sebuah reward dan kemudian umumkan kepada seluruh tim bahwa kalau mereka berhasil sampai di DZ, mereka akan mendapatkan reward itu. Secara lumrah harusnya mereka berteriak senang dengan adanya reward tersebut.

Namun, ada juga orang-orang yang tidak senang dengan adanya reward tersebut. Dan itu sering terjadi di berbagai perusahaan. Ada gerangan itu bisa terjadi? Bukankah kita sudah menawarkan sebuah reward jika mereka berhasil sampai di DZ? Mengapa mereka tidak berminat untuk segera berusaha? Untuk memahami poin di atas, ada tiga scenario yang membantu kita untuk memahami alasannya.

Skenario 1       : Reward < Upaya + Resiko

Skenario 2       : Reward = Upaya + Resiko

Skenario 3       : Reward > Upaya + Resiko

 

 

 

 

 

                Jika skenario 1 yang ditawarkan kepada karyawan, maka kemungkinan besar mereka tiadak akan berminat dan mereka TIDAK akan mengubah tindakan mereka. Ini disebabkan karena mereka menimbang reward itu sama sekali tidak setimpal dengan upaya dan reasiko yang harus mereka tanggung.

Untuk skenario 2, penawaran ini sebenarnya penawaran yang win-win solution bagi karyawan karena mereka mendapatkan reward yang nilainya sama dengan upaya dan resiko yang mereka usahakan untuk bisa sampai di DZ. Tetapi, mungkin ya mungkin tidak. Ini sangat tergantung pada apakah mereka menyukai dan percaya pada sang manajer, serta pada apakah mereka sendiri termotivasi untuk berubah atau tidak.

Sedangkan, skenario 3 merupakan penawaran yang paling menggiurkan. Sangat besar kemungkinan, mereka akan mengubah tindakan mereka untuk keluar dari CZ menuju DZ. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa upaya dan resiko yang usahakan lebih sedikit ketimbang reward yang akan mereka dapatkan nantinya setelah sampai di DZ.

Penting untuk diperhatikan bagi semua manajer. Reward harus dimunculkan sebagai bentuk penghargaan atas perubahan yang dilakukan karyawan. Reward tidak harus selalu berupa uang, bisa berupa pengakuan, seperti pemajangan foto di majalah atau bulletin perusahaan. Bisa juga dipanggil di depan rekan-rekan lainnya untuk diberikan selamat. Mungkin memberikan souvenir seperti tiket ke Dufan Ancol untuk bermain sekeluarga juga salah satu cara memberikan penghargaan efektif.

Kesimpulan

Sangat sederhana. Jika ingin maju, kita harus mengubah tindakan kita dari A menjadi B. Itu berarti keluar dari zona nyaman. Untuk keluar dari zona nyaman, kita harus bisa mengatasi hambatan mental dan hambatan fisik. Setelah mengatasi kedua kendala tersebut, kita baru dianggap lulus melakukan perubahan.

Untuk mengajak perubahan pada suatu organisasi, tidak selalu semua orang akan senang maka diperlukan reward. Reward yang besar akan menjadikan setiap orang berpikir sama yaitu beranjak dari CZ menuju DZ. Reward pun tak harus berbentuk uang, tetapi suatu bentuk penghargaan yang nilainya dapat terukur sehingga mereka dengan rela mencapai DZ, dan mendapatkan kebahagiaan bersama.

***


[1] Resume buku yang berjudul “Setiap Manajer Harus Baca Buku Ini !” Karya James Gwee, Juni 2010. Kompas Gramedia, Jakarta.

[2] Branch Manager LP3I Course Center Cabang Jatiwaringin. Sampai saat ini penulis aktif di beberapa media elektronik dan juga aktif menulis beberapa buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s