Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa

Oleh M. Sobry Sutikno

Pembelajaran efektif, bukan membuat Anda pusing, akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan. – M. Sobry Sutikno –

Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.

Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

*Penulis adalah Direktur Eksekutif YNTP for research and Development Kabupaten Sumbawa Barat – NTB (Tode Dasan, Desa Dasan Anyar, Kecamatan Jereweh, KSB)

***

PERAN GURU DALAM MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Oleh : Dr. M. Sobry Sutikno
Penulis adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Direktur Eksekutif YNTP for Research and Development

Pembelajaran efektif, bukan membuat Anda pusing akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan (M. Sobry Sutikno)

Motivasi berpangkal dari kata “motif” yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.

Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. (1) Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.(2) Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini? tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.

Beberapa strategi yang dapat dikembangkan oleh guru dalam upaya untuk menumbuhkan dan membangkitkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran, berikut ini:

Menjelaskan tujuan belajar ke siswa. Pada permulaan pembelajaran seharusnya terlebih dahulu guru men-jelaskan mengenai tujuan pembelajaran khusus yang akan dicapai oleh siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

Hadiah. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. Ada bermacam-macam hadiah, yaitu ada yang berbentuk simbul, penghargaan, kegiatan, dan  benda.

Salah satu contoh penghargaan adalah memberikan applause kepada siswa setiap selesai beraktivitas, misalnya setelah siswa melaksanakan kegiatan bermain peran, simulasi, komunikasi interaktif ataupun ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru ataupun per-tanyaan teman dalam diskusi, dan lain-lain.

Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan per-saingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

Hukuman. Hukuman bukan alat untuk menakut-nakuti anak, tetapi untuk merubah cara berpikir anak. Bahwa setiap pekerjaan (baik atau buruk) memiliki konsekuensi. Hukuman terjadi apabila konsekwensi yang tidak menyenangkan menyertai perilaku tertentu. Misalnya, bila ada seorang siswa yang tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, maka guru dapat memberikan hukuman kepadanya, namun hukuman ini hanya sebagai konsekwensi tidak diselesaikannya tugas tersebut. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

Membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke siswa.

Memberikan angka. Angka merupakan simbol prestasi yang diperoleh siswa. Beri penjelasan pada anak bahwa prestasi belajar dapat terpresentasikan dalam simbol angka.

Pada saat menyampaikan materi pelajaran, upayakan untuk menyelipi dengan humor dan atau cerita-cerita lucu.

Membantu kesulitan belajar siswa secara individual maupun kelompok.

Menggunakan metode yang bervariasi.

Menggunakan media yang baik, serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tiap siswa memiliki ke-mampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun penglihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca, dan sebaliknya. Dengan variasi penggunaan media, ke-lemahan indera yang dimiliki tiap siswa dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian anak misalnya, guru dapat memulai dengan berbicara lebih dulu, kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkrit. Dengan variasi seperti itu dapat memberi stimulus terhadap indera siswa.

Pengertian Motivasi Belajar

Pengertian Motivasi

Kegiatan atau tingkah laku manusia dimana ia berada, dapat menjadi perhatian setiap orang, dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan.[1]

Dari pengertian di atas, dapat digambarkan bahwa motivasi merupakan usaha untuk melakukan sesuatu sehingga dapat membawa beberapa perubahan yang dapat menentukan langkah seseorang dengan mengarah kepada tujuan yang hendak dicapai.

Berdasarkan pengertian motivasi yang telah dikemukakan di atas, secara sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi merupakan kekuatan yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan.  Hal tersebut, terlaksana karena dirangsang dari berbagai macam kebutuhan atau keinginan yang hendak dipenuhi.

Pengertian Belajar

Belajar adalah aspek dalam proses yang biasa disebut dengan pendidikan. Oleh karena itu, belajar merupakan rangkaian interaksi, maka proses belajar mengajar berarti rangkaian interaksi antara pengertian belajar.

H. Abdurrahman mengemukakan bahwa :

Belajar adalah semua upaya manusia atau individu memobilisasikan (menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan semua sumber daya manusia yang dimilikinya (fisik, mental, Intelektual, Emosional dan Social) untuk memberikan jawaban (respons) yang tepat terhadap problema yang dihadapinya.[2]

Dari pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah lakunya dapat mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penampilan, ilmu pengetahuan atau kemahiran yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan kesemuanya dapat diraih hanya dengan membaca.

Dalam proses balajar haruslah diperhatikan prinsip belajar. Karena proses belajar memang kompleks tetapi dianalisis dan diperinci dalam bentuk prinsip-prinsip atau asas-asas belajar. Hal ini perlu diketahui agar kita memiliki pedoman dalam belajar secara efisien. Prinsip-prinsip tersebut antara lain

  • Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan saling mempengaruhi secara dinamis antara siswa dengan lingkungan.
  • Belajar senantiasa harus bertujuan, terarah dan jelas bagi siswa. Tujuan akan menuntunnya dalam belajar untuk mencapai harapan-harapannya.
  • Belajar paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam diri sendiri.
  • Senantiasa ada rintangan dan hambatan dalam belajar, karena itu siswa harus mengatasinya secara tepat.[3]

Pandang di atas memberikan gambaran bahwa prinsip-prinsip belajar dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, dalam belajar perlu adanya motivasi sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif dalam belajar dan dapat menggerakkan segala daya yang ada agar siswa dapat memusatkan perhatian.

Sardiman AM, mengemukakan bahwa :

Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis non intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. [4]

Macam-macam Motivasi belajar

Kita ketahui bersama bahwa motivasi adalah merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Jadi motivasi untuk belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong individu untuk belajar.

Motivasi dibedakan atas dua macam yaitu :

  • Motivasi Instrinsik yaitu motivasi yang ditimbulkan dari dalam diri individu, tanpa ada rangsangan atau bantuan orang lain.
  • Motivasi Ekstrinsik yaitu motivasi yang timbul akibat rangsangan dari luar diri individu.

Salah satu ciri yang  penting dari motivasi adalah adanya semangat terhadap seseorang peserta didik dalam kegiatan – kegiatan belajarnya, seseorang berkeinginan untuk melakukan suatu perbuatan dan memberi petunjuk pada tingkah laku. Sardiman AM. Mengemukakan bahwa :

Dalam kegiatan belajar maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang dapat memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek balajar itu dapat tercapai.[5]

Peranan Orang tua dalam Proses Belajar

Setiap anak yang lahir kedunia, pertama-tama diasuh dan dididik oleh orang tuanya. Orang tua sebagai peletak dasar pendidikan yang akan menentukan arah dan tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh anak, baik menyangkut kehidupan keagamaan maupun kehidupan dunia.

Rumah tangga atau keluarga adalah taman kanak-kanak yang mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap proses belajar anak. Kegagalan mendidik dalam lingkungan keluarga merupakan malapetaka bagi kehidupannya kelak.

Oleh karena itu dapat dikatakan orang tua sangat berperan dalam proses belajar anak, dimana penanggung jawab terhadap anak sebagai anggota keluarga adalah orang tua yang akan memberikan corak hidup dan kehidupan di dunia ini, dan orang tua yang menentukan apakah anak itu akan dijadikan anak yang terpelajar. Orang tua perlu memberikan materi dan mengisi tulisan pertama terhadap anak yang masih putih bersih, kemudian memilih sekolah mana yang akan dimasuki anaknya.

Para ahli sependapat bahwa pendidikan dalam keluarga sangat besar pengaruhnya, karena pendidikan yang demikian yang membawa pengaruh terhadap anak dalam kehidupan selanjutnya bagi anak, Keluarga adalah merupakan suatu organisasi yang tidak berdiri sendiri, tetapi ia adalah bagian dari masyarakat yang keduanya dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa keluarga adalah sentral pendidikan dan tempat pertama bagi anak untuk mengenal kehidupan, maka dengan sendirinya pendidikan di sini bukan saja hal yang disengaja yang turut mempengaruhi pribadi anak.

Perlunya orang tua mengetahui bahwa anak pada masa bayi anak hanya mengatakan dirinya terhadap orang tuanya dan anak senantiasa memperhatikan orang tuanya atau meniru segala tingkah lakunya.

Dalam rangka mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, sangatlah tepat apabila bapak dan ibu sebagai pemberi bimbingan pada anak dengan bimbingan yang sebaik-baiknya.

Jelas bahwa keluarga adalah pusat pendidikan dan lembaga pendidikan yang pertama dan utama yang didapat atau diperoleh anak, dimana dalam hal ini orang tua sebagai penanggung jawab terhadap anak harus memberikan contoh-contoh yang baik, membimbing dan mengasuh dengan baik, agar tingkah laku anak dapat mencerminkan nilai-nilai yang mulia/Akhlak karimah dapat menyebarkan sifat-sifat yang berdasarkan nilai pendidikan yang telah dipelajari anak melalui proses belajar di sekolah dan di masyarakat

Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dan tidak dapat dipisahkan

dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat dan bangsa.

Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tingkat keberhasilan pendidikan. Negara

Indonesia sebagai negara berkembang dalam pembangunannya membutuhkan

sumber daya manusia yang dapat diandalkan (Soemanto, 2002: 62).

Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan

nasional pada bab II pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi

mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk

berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

bertanggungjawab.

Pendidikan adalah suatu proses, yaitu usaha manusia dengan penuh

tanggung jawab untuk membimbing anak-anak didik menuju kedewasaan. Proses

pendidikan yang diselenggarakan secara formal di sekolah tidak lepas dari

kegiatan belajar yang merupakan salah satu kegiatan pokok, oleh karena itu

penyelenggaraan pendidikan membutuhkan tenaga pendidik untuk mengadakan

proses belajar mengajar dan akhirnya akan tercapai hasil belajar atau prestasi

belajar. Tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia yang beriman

dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif,

demoktratis bertanggungjawab (Sisdiknas, 2003: 12).

Ilmu pengetahuan harus mampu memperluas dan meningkatkan

kemampuan peserta didik sejalan dengan kemajuan teknologi. Termasuk hal-hal

yang bermakna bagi pendidikannya, bagi masyarakat dan pembangunan negara.

Oleh karena itu di Indonesia juga telah mengalami perubahan kurikulum pada

tahun 1968, 1975, 1984, 1994, 1999 (Suplemen Penyempurnaan), 2004

(Kurikulum Berbasis Kompetensi/ KBK) dan tahun 2006 (Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan/KTSP).

Belajar merupakan suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung

dalam interaksi dengan lingkungan yang dapat menghasilkan perubahanperubahan

dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan-ketrampilan dan nilai

sikap. Perubahan-perubahan tersebut bersifat secara relatif konstan dan bebas

(Winkel, 1991: 36).

Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dan percobaan dalam diri

seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat

pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu

menjadi tahu, timbulnya pengertian-pengertian baru, perubahan dalam sikap,

kebiasaan-kebiasaan, ketrampilan, perkenalan dan pertumbuhan jasmaniah

(Hamalik, 1993: 62).

Dalam kegiatan belajar yang berlangsung, tidak sedikit siswa akan

mengalami hambatan dalam proses belajarnya, hambatan-hambatan itulah yang

dimaksud dengan kendala yang menghambat proses tercapainya tujuan belajar.

Kendala yang dialami siswa bermacam-macam antara individu yang satu dengan

yang lain berbeda, baik macam maupun bobotnya.

Keberhasilan proses belajar sebagian dipengaruhi oleh peran orang tua.

Dalam keluarga anak mulai mengadakan interaksi dengan orang-orang yang ada

disekitarnya, terutama dengan orang tuanya, yaitu ayah dan ibu. Melalui interaksi

anak dengan orang tua, akan terbentuklah gambaran-gambaran tertentu mengenai

anaknya. Dengan adanya gambaran-gambaran tertentu tersebut sebagai hasil

persepsinya, maka akan terbentuklah sikap-sikap tertentu pada masing-masing

pihak. Bagi orang tua anak sebagai objek sikap, sebaliknya bagi anak orang tua

juga sebagai objek sikap. Pada anak akan terbentuk sikap tertentu terhadap orang

tuanya, sebaliknya pada orang tua akan terbentuk sikap tertentu pada anaknya.

Berkaitan dengan hal tersebut orang tua harus bijaksana, menyadari

dengan baik akan posisinya sebagai orang tua, perlu memberi contoh yang baik,

satunya kata dengan perbuatan, dan hal-hal lain yang baik, karena orang tua akan

dijadikan model bagi pembentukan sikap anak. Orang tua harus bersikap ing

ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ing ngarsa

sung tuladha, berarti orang tua harus mampu menjadikan dirinya sebagai contoh/

panutan bagi anak-anaknya. Ing madya mangun karsa, berarti orang tua harus

dapat membangkitkan semangat/ memberikan dorongan kepada anak-anaknya.

Tut wuri handayani, berarti orang tua harus dapat memberikan kesempatan kepada

anak untuk ikut berperan serta, untuk mengambil inisiatif, untuk tampi di depan,

untuk melatih mandiri dan bertanggung jawab.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penelitian ini mengambil

judul “Peran Orang Tua Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Anak (Studi Kasus

Pada Siswa Kelas II SMU Muhammadiyah 3 Surakarta)“.

B. Fokus Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut timbul suatu

masalah yaitu:

1. Macam-macam kesulitan belajar anak yang menghambat proses tercapainya

tujuan belajar.

2. Faktor-faktor yang menimbulkan kesulitan belajar anak.

3. Peran orang tua dalam mengatasi kesulitan belajar anak.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi peran orang tua dalam mengatasi kesulitan

belajar anak.

5. Bentuk upaya orang tua dalam mengatasi kesulitan belajar anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s